Burner Fire Back pada Oven Industri dan Ketel Aspal: Penyebab, Dampak, Solusi, dan Studi Kasus Lapangan
Burner Fire Back pada Oven Industri dan Ketel Aspal: Penyebab, Dampak, Solusi, dan Studi Kasus Lapangan
Pada banyak kasus, operator hanya melihat gejala awal berupa cover burner menguning, bau plastik terbakar, atau burner sering lockout. Namun, jika kondisi tersebut diabaikan, kerusakan dapat berkembang menjadi lebih serius dan menyebabkan downtime produksi yang tidak direncanakan.
Catalog BEJO 40 FS20 two stage burning

Info grafis burner fire back pada oven industri dan ketel aspal
Apa Itu Burner Fire Back?
Fenomena ini berbeda dengan flashback biasa karena fire back umumnya berlangsung lebih lama dan menghasilkan kerusakan fisik pada komponen burner.
Pada kondisi normal, api terbentuk beberapa sentimeter hingga beberapa puluh sentimeter di depan burner head. Campuran udara dan bahan bakar terbakar sempurna di dalam combustion chamber.
Semakin lama burner beroperasi dalam kondisi fire back, semakin besar risiko kerusakan komponen dan potensi kebakaran pada instalasi.
Asal Mula Burners Mengalami Fire Back
- Housing burner berubah warna menjadi kecoklatan.
- Cover plastik mulai melengkung.
- Kabel di dekat blast tube mengeras karena panas.
- Insulasi kabel terbakar.
- Flame detector cepat rusak.
- Ignition electrode retak.
- Burner sering lockout.
- Terdengar suara ledakan kecil saat start.
- Api terlihat sangat dekat dengan burner head.
- Temperatur casing burner meningkat drastis.
- Bau plastik terbakar.
- Diffuser burner berubah bentuk.
- Nozzle mengalami overheating.
- Burner sering gagal menyala.
- Api berwarna merah gelap dan tidak stabil.
Penyebab Api Mengalami Tekanan Balik
Sebelum terjadi kerusakan besar, burner biasanya menunjukkan berbagai gejala awal yang sering tidak disadari oleh operator. Deteksi dini sangat penting karena dapat mencegah kerusakan diffuser, ignition electrode, flame detector, wiring, hingga control box. Berikut beberapa gejala yang umum ditemukan pada burner gas maupun burner solar kapasitas 50 kW sampai 220 kW.
| No | Gejala Awal | Kondisi yang Terlihat | Risiko Jika Diabaikan |
|---|---|---|---|
| 1 | Cover burner menguning | Warna cover berubah dari abu-abu menjadi kuning atau kecoklatan | Overheating pada area burner head |
| 2 | Bau plastik terbakar | Tercium aroma terbakar saat burner firing | Komponen plastik mulai meleleh |
| 3 | Burner terasa lebih panas dari biasanya | Body burner sulit disentuh saat operasi | Kerusakan wiring dan sensor |
| 4 | Flame detector sering gagal membaca api | Burner lockout meskipun api terlihat normal | Shutdown produksi mendadak |
| 5 | Ignition electrode cepat kotor | Kerak karbon menempel pada elektroda | Kegagalan proses penyalaan |
| 6 | Ignition cable mengeras | Lapisan silikon mulai retak akibat panas | Kebocoran tegangan tinggi |
| 7 | Api terlalu dekat burner head | Nyala api terlihat menempel pada diffuser | Fire back semakin parah |
| 8 | Suara pembakaran tidak normal | Muncul suara gemuruh atau ledakan kecil | Kerusakan diffuser dan nozzle |
| 9 | Api berwarna merah gelap | Pembakaran terlihat tidak stabil | Pembakaran tidak sempurna |
| 10 | Muncul asap hitam | Cerobong mengeluarkan asap pekat | Konsumsi bahan bakar meningkat |
| 11 | Burner sering restart | Burner hidup-mati berulang | Mempercepat kerusakan komponen |
| 12 | Temperatur blast tube meningkat | Blast tube berubah warna menjadi gelap | Deformasi blast tube |
| 13 | Diffuser berubah warna | Permukaan diffuser menghitam atau memerah | Kerusakan pola pembakaran |
| 14 | Keramik electrode retak | Muncul retakan kecil pada insulator | Kegagalan ignition total |
| 15 | Terminal listrik panas | Konektor terasa panas saat disentuh | Terminal meleleh atau terbakar |
| 16 | Seal tahan panas mengeras | Seal kehilangan elastisitas | Kebocoran udara pembakaran |
| 17 | Flame signal tidak stabil | Nilai pembacaan api naik turun | Burner sering trip |
| 18 | Efisiensi burner menurun | Waktu pemanasan lebih lama | Konsumsi bahan bakar meningkat |
| 19 | Area depan burner gosong | Muncul bekas panas pada housing | Kerusakan permanen burner head |
| 20 | Cover plastik mulai melengkung | Bentuk cover berubah akibat suhu tinggi | Perlu penggantian komponen |
Apabila ditemukan dua atau lebih gejala di atas secara bersamaan, inspeksi burner sebaiknya segera dilakukan.
Penjelasan Burner Fire Back dan Tekanan Api Balik pada Burner Industri.
Penjelasan Burner Fire Back dan Tekanan Api Balik pada Burner Industri
Video ini membahas secara lengkap fenomena Burner Fire Back atau api balik pada burner industri yang sering terjadi pada boiler steam, thermal oil heater, oven industri, dryer, furnace, dan berbagai sistem pembakaran lainnya. Fire back merupakan kondisi ketika nyala api tidak terbentuk secara normal di depan burner head, melainkan merambat kembali ke area blast tube atau kepala burner sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan komponen dan gangguan operasi.
Selain itu, video ini menjelaskan hubungan antara tekanan bahan bakar, tekanan udara pembakaran, nozzle burner, sistem atomisasi, serta rasio udara dan bahan bakar yang dapat memicu terjadinya api balik. Banyak kasus burner fire back sebenarnya disebabkan oleh setting burner yang tidak tepat, nozzle yang aus, tekanan bahan bakar yang tidak stabil, atau kondisi ruang bakar yang tidak sesuai dengan kapasitas burner.
Dalam video ini juga dibahas berbagai gejala yang sering muncul sebelum terjadi fire back, seperti api tidak stabil, ledakan kecil saat start-up, burner lockout, flame failure, suara pembakaran tidak normal, hingga timbulnya asap hitam. Oleh karena itu, pemahaman mengenai sistem pembakaran dan prosedur setting burner yang benar sangat penting untuk menjaga keselamatan operasi dan meningkatkan efisiensi energi.
Penjelasan Vidio Pemasanagn Oil Burner di Pabrik Asphat Mixing Plant Drum Rotary dry Agregat.
Video ini menampilkan proses pemasangan Oil Burner Industri pada Asphalt Mixing Plant (AMP) yang digunakan untuk memanaskan agregat di dalam Rotary Dryer Drum. Burner berfungsi sebagai sumber panas utama untuk mengeringkan material agregat seperti batu pecah, pasir, dan filler sebelum masuk ke proses pencampuran aspal.
Pada sistem AMP, kualitas pembakaran burner sangat menentukan kapasitas produksi, konsumsi bahan bakar, temperatur agregat, serta kualitas campuran aspal yang dihasilkan. Oleh karena itu, pemilihan burner yang tepat, pemasangan yang benar, serta setting udara dan bahan bakar yang akurat menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi dan stabilitas operasi plant.
Video ini memperlihatkan tahapan instalasi burner mulai dari pemasangan burner pada dryer drum, penyambungan sistem bahan bakar, pengaturan blower udara pembakaran, alignment burner dengan rotary dryer, hingga proses commissioning dan uji nyala api. Selain itu, ditampilkan juga karakteristik flame yang ideal untuk memastikan distribusi panas merata di dalam drum pengering agregat.
Topik yang Dibahas
✔ Pemasangan Oil Burner pada Asphalt Mixing Plant
✔ Rotary Dryer Drum Agregat
✔ Setting Burner AMP yang Benar
✔ Sistem Pembakaran Asphalt Mixing Plant
✔ Burner Solar untuk Dryer Agregat
✔ Pengaturan Udara dan Bahan Bakar
✔ Efisiensi Pembakaran AMP
✔ Commissioning dan Testing Burner Industri
✔ Troubleshooting Burner Asphalt Mixing Plant
✔ Penghematan Konsumsi BBM pada AMP
Burner yang terpasang dengan baik dapat membantu meningkatkan efisiensi pengeringan agregat, mengurangi konsumsi bahan bakar, menjaga stabilitas temperatur produksi, serta memperpanjang umur pakai dryer dan komponen sistem pembakaran.
Aplikasi Industri
🔥 Asphalt Mixing Plant (AMP)
🔥 Rotary Dryer Agregat
🔥 Dryer Pasir dan Batu
🔥 Thermal Oil Heater
🔥 Boiler Industri
🔥 Oven Industri
🔥 Sistem Pembakaran Industri
Penyebab Utama Burner Fire Back
1. Setting Udara Terlalu Rendah
Penyebab paling umum fire back adalah suplai udara pembakaran yang kurang. Ketika udara primer tidak mencukupi, pembakaran menjadi lambat dan api cenderung bergerak mendekati burner head.
Pada burner kecil 50–220 kW, sedikit perubahan damper udara dapat memberikan pengaruh besar terhadap posisi nyala api. Operator yang menutup damper untuk mengurangi suara blower sering kali tanpa sadar menciptakan kondisi fire back.
2. Tekanan Gas Terlalu Rendah
Burner gas memerlukan tekanan bahan bakar yang stabil agar proses pembakaran berlangsung normal. Apabila tekanan gas turun di bawah spesifikasi, nyala api dapat bergerak kembali ke arah burner head dan meningkatkan risiko fire back.
Kasus ini sering ditemukan pada oven industri yang menggunakan jaringan gas dengan kapasitas terbatas atau regulator yang tidak sesuai.
3. Burner Head Kotor
Akumulasi debu, karbon, residu aspal, atau partikel proses dapat menyumbat lubang diffuser. Akibatnya pola campuran udara dan bahan bakar berubah sehingga api tidak terbentuk secara normal.
Burner head yang kotor sering menyebabkan nyala api tidak simetris dan meningkatkan risiko fire back.
4. Combustion Chamber Terlalu Kecil
Beberapa oven dan ketel aspal menggunakan ruang bakar yang tidak sesuai kapasitas burner. Api tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang sehingga panas memantul kembali ke arah burner.
Masalah ini sering terjadi setelah modifikasi alat tanpa perhitungan engineering yang benar.
5. Tekanan Ruang Bakar Positif
Burner umumnya dirancang bekerja pada kondisi tekanan ruang bakar tertentu. Ketika tekanan menjadi terlalu positif akibat cerobong tersumbat atau exhaust fan bermasalah, nyala api terdorong kembali ke burner.
6. Nozzle Tidak Sesuai
Pada burner solar, penggunaan nozzle yang salah dapat menghasilkan pola semprotan yang tidak sesuai desain. Api menjadi terlalu pendek atau terlalu dekat dengan blast tube.
Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya overheating pada kepala burner.
7. Kelebihan Bahan Bakar
Rasio bahan bakar yang terlalu tinggi menyebabkan pembakaran tidak sempurna. Api menjadi merah, menghasilkan jelaga, dan cenderung bergerak ke arah belakang.
Komponen yang Sering Meleleh Akibat Fire Back
- Cover plastik burner.
- Terminal listrik.
- Konektor kabel.
- Selang fleksibel.
- Housing flame detector.
- Ignition cable.
- Insulasi kabel.
- Seal karet.
- Fan cover.
- Control box plastik.
Pada burner kecil, banyak komponen menggunakan material plastik teknik yang memiliki batas temperatur sekitar 80–120°C. Saat fire back terjadi, suhu lokal dapat melampaui 300°C sehingga komponen mengalami deformasi dalam waktu singkat.
Dampak Kerusakan Fire Back
Kerugian akibat fire back tidak hanya berupa kerusakan burner. Produksi juga dapat terganggu karena downtime yang tidak direncanakan.
- Produksi berhenti.
- Kualitas produk menurun.
- Konsumsi bahan bakar meningkat.
- Biaya perbaikan tinggi.
- Risiko kebakaran meningkat.
- Umur burner berkurang.
- Frekuensi maintenance meningkat.
- Kerusakan kontrol pembakaran.
- Gangguan keselamatan kerja.
Metode Inspeksi Burner Fire Back
Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis untuk menemukan akar penyebab masalah.
secara Visual
- Cek warna burner head.
- Cek kondisi diffuser.
- Cek kabel dan terminal.
- Cek cover plastik.
- Cek kondisi nozzle.
Tekanan Gas
- Tekanan sebelum regulator.
- Tekanan sesudah regulator.
- Tekanan saat burner firing.
Pressure Udara
- Kondisi blower.
- Kebersihan impeller.
- Setting damper.
- Kondisi air intake.
Flame
- Warna api.
- Panjang api.
- Stabilitas api.
- Posisi api terhadap burner head.
Solusi Perbaikan Fire Back
1. Membersihkan Burner Head
Semua kerak karbon dan deposit harus dibersihkan secara menyeluruh. Diffuser yang berubah bentuk sebaiknya diganti.
2. Kalibrasi Rasio Udara dan Bahan Bakar
Pengaturan ulang damper udara dan tekanan bahan bakar harus dilakukan menggunakan alat ukur yang sesuai.
3. Mengganti Komponen Rusak
- Flame detector.
- Ignition electrode.
- Kabel ignition.
- Diffuser.
- Nozzle.
- Seal burner.
4. Memastikan Ruang Bakar Sesuai
Ukuran combustion chamber harus sesuai dengan kapasitas burner. Api tidak boleh mengenai dinding ruang bakar secara langsung.
5. Melakukan Analisa Pembakaran
Penggunaan combustion analyzer sangat membantu untuk memastikan kadar oksigen, karbon monoksida, dan efisiensi pembakaran berada dalam batas normal.
Studi Kasus Fire Back Burner pada Pabrik Pemanas Aspal 220 kW
Salah satu kasus yang pernah ditemukan terjadi pada unit pemanas aspal yang menggunakan burner gas kapasitas 220 kW. Sistem tersebut digunakan untuk menjaga temperatur aspal cair pada kisaran 160°C hingga 180°C selama proses produksi berlangsung.
Gejala Awal yang Ditemukan Operator
Pada awalnya operator hanya melaporkan adanya perubahan warna pada cover burner. Warna plastik yang semula abu-abu berubah menjadi kecoklatan. Karena burner masih beroperasi normal, kondisi tersebut tidak dianggap sebagai masalah serius.
Dua minggu kemudian muncul bau plastik terbakar ketika burner bekerja pada kapasitas penuh. Operator kembali mengabaikan kondisi tersebut karena produksi sedang berjalan penuh untuk memenuhi target pengiriman proyek jalan raya.
Sekitar satu bulan setelah gejala pertama muncul, burner mulai mengalami lockout secara acak. Terkadang burner dapat bekerja selama beberapa jam, namun kemudian berhenti mendadak dan membutuhkan reset manual.
Pemeriksaan Sistem Gas dan Kontrol Burner
Tim maintenance melakukan pemeriksaan terhadap sistem gas dan tidak menemukan masalah berarti pada regulator maupun solenoid valve. Tekanan gas masih berada dalam rentang normal sesuai spesifikasi pabrikan.
Investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa flame detector mengalami overheating akibat posisi api yang terlalu dekat dengan burner head. Sensor masih dapat bekerja tetapi sensitivitasnya sudah menurun drastis.
Temuan Kerusakan pada Diffuser dan Ignition Cable
Ketika burner dibongkar, ditemukan diffuser mengalami deformasi akibat paparan panas yang berlangsung terus menerus. Lubang diffuser juga tertutup residu debu dan kerak hasil pembakaran yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Akibat perubahan bentuk diffuser, distribusi udara pembakaran tidak lagi merata. Sebagian api bergerak mundur mendekati blast tube sehingga menyebabkan fenomena fire back.
Selain diffuser yang rusak, ditemukan pula ignition cable yang mulai mengeras akibat temperatur tinggi. Lapisan silikon luar mengalami retak-retak kecil yang berpotensi menyebabkan kebocoran tegangan tinggi pada saat proses penyalaan.
Langkah Perbaikan yang Dilakukan
Setelah dilakukan investigasi menyeluruh, tim maintenance melakukan beberapa tindakan korektif untuk menghilangkan penyebab fire back dan mengembalikan performa Flame.
- Membersihkan diffuser dan area burner head.
- Mengganti ignition cable yang mengalami overheating.
- Mengganti ignition electrode yang mulai aus.
- Mengganti flame detector yang sensitivitasnya menurun.
- Melakukan combustion tuning dan setting ulang rasio udara-bahan bakar.
- Menyediakan spare part kritis sebagai stok darurat di gudang proyek.
Hasil Setelah Perbaikan
Hasil pengukuran setelah perbaikan menunjukkan suhu permukaan burner head turun lebih dari 40°C dibandingkan kondisi sebelum perbaikan. Burner kemudian beroperasi normal tanpa kejadian lockout maupun fire back selama lebih dari dua belas bulan operasi.
Studi Kasus 1 – Oven Powder Coating 120 kW
Sebuah pabrik manufaktur menggunakan burner gas 120 kW pada oven powder coating. Operator mengeluhkan cover burner sering meleleh setiap 3–4 bulan.
Setelah dilakukan inspeksi ditemukan damper udara ditutup hampir 50% karena dianggap terlalu bising. Kondisi ini menyebabkan api sangat pendek dan dekat dengan burner head.
Studi Kasus 2 – Ketel Aspal 220 kW
Pada ketel pemanas aspal ditemukan kabel ignition terbakar berulang kali. Pemeriksaan menunjukkan diffuser tertutup residu aspal dan debu yang telah mengeras.
Pola api menjadi tidak stabil dan sebagian api mengarah ke belakang. Setelah diffuser dibersihkan dan dilakukan tuning burner, temperatur area blast tube kembali normal.
Studi Kasus 3 – Oven Pengering Industri 80 kW
Burner mengalami fire back. Selain itu, operator tidak menyadari masalah tersebut. Akibatnya, komponen mulai rusak. Pada akhirnya, produksi terganggu.
Tekanan gas turun drastis sehingga kecepatan keluarnya gas lebih rendah dari kecepatan rambat api. Setelah regulator diganti dengan kapasitas yang benar, fire back hilang sepenuhnya.
Pencegahan Fire Back pada Burner 50–220 kW
- Lakukan pembersihan burner head secara berkala.
- Periksa tekanan gas setiap bulan.
- Periksa nozzle secara rutin.
- Pastikan damper udara tidak berubah posisi.
- Gunakan combustion analyzer.
- Periksa kondisi cerobong.
- Periksa exhaust fan.
- Lakukan preventive maintenance.
- Ganti komponen aus sebelum rusak total.
- Latih operator mengenali gejala awal fire back.
Pentingnya Ketersediaan Spare Part di Indonesia
Dampak Tidak Tersedianya Spare Part Burner
Tidak tersedianya spare part burner merupakan salah satu penyebab utama downtime produksi yang berkepanjangan. Ketika komponen penting seperti flame detector, ignition electrode, ignition cable, diffuser, atau control relay mengalami kerusakan, proses perbaikan tidak dapat dilakukan dengan cepat apabila suku cadang pengganti tidak tersedia.
Selain menyebabkan penghentian produksi, kondisi ini juga dapat meningkatkan biaya operasional, mengganggu jadwal pengiriman, serta menurunkan produktivitas perusahaan. Oleh karena itu, ketersediaan spare part menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan sistem pembakaran industri.
Kerugian Produksi Akibat Downtime
Pada industri makanan, farmasi, tekstil, asphalt mixing plant, dan manufaktur…
Strategi Penyediaan Spare Part Lokal
Karena itu, ketersediaan spare part lokal menjadi faktor penting dalam pemilihan merek burner industri.
Tanda Spare Part Harus Diganti dan Tidak Bisa Diperbaiki
- Keramik electrode retak.
- Housing flame detector meleleh.
- Kabel ignition mengeras.
- Diffuser berubah bentuk.
- Nozzle tersumbat permanen.
- Blast tube mengalami deformasi.
- Konektor listrik meleleh.
- Cover burner berubah bentuk.
- Seal tahan panas mengeras.
- Terminal terbakar.
Jika komponen mengalami kerusakan fisik akibat panas, penggantian biasanya lebih ekonomis dibandingkan perbaikan sementara.
Pentingnya Ketersediaan Spare Part di Indonesia
Salah satu penyebab downtime panjang adalah tidak tersedianya spare part saat burner mengalami kerusakan. Banyak industri menggunakan burner impor yang memerlukan waktu pengadaan 4 hingga 12 minggu untuk komponen tertentu.
Karena itu, ketersediaan spare part lokal menjadi faktor penting dalam pemilihan merek burner industri.
Komponen yang Sebaiknya Selalu Tersedia di Gudang Maintenance
Untuk mencegah downtime berkepanjangan, tim maintenance disarankan menyimpan spare part kritis berikut:
- Ignition electrode set.
- Flame detector.
- Ignition cable.
- Nozzle berbagai ukuran.
- Gas solenoid valve coil.
- Air pressure switch.
- Gas pressure switch.
- Ignition transformer.
- Control relay.
- Fuse dan terminal listrik.
- Seal tahan panas.
- Diffuser assembly.
Penyimpanan spare part kritis dapat mengurangi downtime dari beberapa minggu menjadi hanya beberapa jam.
Studi Kasus 4 Ketel Aspal 180 kW
Sebuah kontraktor jalan raya menggunakan ketel aspal dengan burner gas kapasitas 180 kW. Selama musim proyek, burner beroperasi hampir 18 jam per hari.
Operator mulai menemukan cover burner menguning dan muncul bau plastik terbakar. Karena burner masih dapat menyala, kondisi tersebut diabaikan selama beberapa minggu.
Akhirnya ignition cable meleleh dan terjadi kegagalan start total. Produksi aspal berhenti selama dua hari karena spare part tidak tersedia di lokasi proyek.
Setelah dilakukan investigasi, ditemukan diffuser tertutup residu debu dan setting udara terlalu rendah. Temperatur burner head tercatat jauh di atas batas desain.
Studi Kasus Burner Solar 80 kW pada Dryer Industri
Sebuah dryer industri menggunakan burner solar kapasitas 80 kW untuk proses pengeringan bahan baku. Dalam beberapa bulan terakhir konsumsi solar meningkat cukup signifikan tanpa adanya peningkatan kapasitas produksi.
Operator juga melaporkan munculnya asap hitam pada saat burner beroperasi penuh.
Saat inspeksi dilakukan, ditemukan nozzle yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi asli burner. Nozzle pengganti memiliki sudut semprotan berbeda sehingga pola api berubah dari desain awal.
Perubahan pola atomisasi menyebabkan sebagian nyala api bergerak mendekati blast tube. Walaupun belum terjadi kerusakan besar, temperatur burner head meningkat jauh di atas kondisi normal.
Nozzle kemudian diganti sesuai spesifikasi pabrikan. Setelah dilakukan tuning ulang, asap hitam hilang dan konsumsi bahan bakar kembali normal.
Studi Banding: Burner yang Mengalami Teknan Api Balik
Perbandingan berikut diambil dari dua unit pemanas proses yang memiliki kapasitas hampir sama namun menunjukkan hasil operasional yang berbeda.
Unit A – Mengalami Fire Back Berulang
Maintenance hanya dilakukan ketika terjadi kerusakan. Burner head tidak pernah dibersihkan secara berkala. Tidak tersedia combustion analyzer. Operator melakukan setting udara berdasarkan perkiraan. Spare part tidak tersedia di gudang sehingga setiap kerusakan menyebabkan downtime yang panjang.
Downtime kumulatif mencapai puluhan jam produksi dengan biaya perbaikan yang cukup besar.
Unit B – Tidak Mengalami Fire Back
Unit ini menerapkan preventive maintenance setiap bulan. Burner head dibersihkan secara rutin. Tekanan gas diperiksa secara berkala. Analisis pembakaran dilakukan menggunakan combustion analyzer. Operator mendapatkan pelatihan dasar mengenai karakteristik nyala api.
Selama periode yang sama, tidak ditemukan kerusakan akibat overheating. Penggantian komponen hanya dilakukan berdasarkan umur pakai normal.Konsumsi bahan bakar juga lebih rendah karena pembakaran berlangsung lebih efisien.
PT Indira Mitra Boiler
Industrial Heating System Specialist
Phone : (021) 352 95874
WhatsApp : +62 813-8866-6204 (Ratman Bejo)
Workshop : Tangerang – Indonesia
Website : https://indiramitraboiler.co.id
Website : https://burner.co.id
Email : info@indira.co.id | idmratman@gmail.com
YouTube : https://www.youtube.com/@BejoBoiler
