Sistem Pemanas Rotary Dryer Pabrik Tepung dengan Burner CNG Bejo FS20, BTN300G & RS34
Sistem Pemanas Rotary Dryer Pabrik Tepung
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam industri pengolahan tepung, proses pengeringan merupakan salah satu tahapan paling penting untuk menjaga kualitas produk akhir. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme, penurunan umur simpan, penggumpalan produk, serta ketidakstabilan selama proses penyimpanan dan distribusi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, banyak pabrik menggunakan sistem rotary dryer yang mampu bekerja secara kontinu dengan kapasitas besar.
Sistem ini memanfaatkan aliran udara panas yang dihasilkan burner untuk menguapkan kandungan air dalam material hingga mencapai kadar air target.
Pada aplikasi ini digunakan rotary dryer tiga drum yang dipadukan dengan gas burner berbahan bakar CNG (Compressed Natural Gas) berkapasitas 300 kW dan 220 kW. Kombinasi ini dipilih karena mampu memberikan efisiensi energi yang tinggi, kontrol temperatur yang stabil, serta tingkat keamanan yang sesuai dengan standar industri pangan.
1.2 Tujuan Sistem
Perancangan sistem pemanas rotary dryer bertujuan untuk menghasilkan proses pengeringan yang konsisten, efisien, dan aman. Sistem harus mampu mengurangi kadar air bahan baku sesuai spesifikasi produk tanpa merusak karakteristik fisik maupun kualitas tepung.
- Mencapai kadar air target secara konsisten.
- Menjaga kualitas produk selama proses pengeringan.
- Mengoptimalkan konsumsi energi.
- Mengurangi risiko gangguan operasional.
- Menjamin keselamatan operator dan peralatan.
2. Konfigurasi Sistem Rotary Dryer
2.1 Prinsip Kerja Rotary Dryer
Rotary dryer bekerja dengan memanfaatkan perpindahan panas antara udara panas dan material yang berada di dalam drum yang berputar. Saat drum berotasi, material akan terangkat oleh flight internal kemudian jatuh kembali sehingga kontak antara material dan udara panas menjadi lebih merata.
Udara panas yang dihasilkan burner dialirkan ke dalam drum untuk menguapkan kandungan air dari material. Uap air kemudian dibawa keluar melalui sistem exhaust dan dipisahkan menggunakan dust collector sebelum udara dibuang ke lingkungan.
Metode ini memungkinkan proses pengeringan berlangsung secara kontinu dengan kapasitas besar dan distribusi panas yang relatif seragam.
2.2 Konfigurasi 3 Drum
Pada sistem tiga drum, proses pengeringan dibagi menjadi beberapa tahap
agar perpindahan panas lebih efisien dan kualitas produk lebih terjaga.
Setiap drum memiliki fungsi dan karakteristik operasi yang berbeda.
- Drum 1 (Pre-Drying)
Berfungsi menghilangkan sebagian besar kadar air awal menggunakan
temperatur tertinggi dalam sistem. - Drum 2 (Main Drying)
Merupakan zona utama pengeringan yang menangani sebagian besar
beban evaporasi air. - Drum 3 (Final Conditioning)
Digunakan untuk penyempurnaan kadar air akhir dan stabilisasi suhu
produk sebelum keluar dari sistem.
2.3 Alur Material dan Udara Panas
Material basah masuk ke Drum 1 melalui sistem feeding yang telah dikontrol kapasitasnya. Pada tahap ini material mulai mengalami pengurangan kadar air akibat kontak langsung dengan udara panas. Material kemudian berpindah ke Drum 2 untuk proses pengeringan utama. Pada zona ini terjadi penguapan air terbesar sehingga kebutuhan energi menjadi paling tinggi dibandingkan zona lainnya.
Setelah itu material masuk ke Drum 3 untuk proses conditioning dan penyesuaian kadar air akhir sebelum dikirim ke tahap proses berikutnya atau ke sistem penyimpanan.
Udara panas mengalir melalui sistem ducting dan burner sesuai desain aliran yang digunakan, baik co-current maupun counter-current.
2.4 Diagram Proses Sistem
Secara umum urutan proses dapat digambarkan sebagai berikut:
- Feeding material basah.
- Drum 1 – Pre Drying.
- Drum 2 – Main Drying.
- Drum 3 – Final Conditioning.
- Dust Collector.
- Exhaust Fan.
- Produk kering keluar sistem.
3. Pemilihan Burner
Pemilihan burner merupakan salah satu faktor paling penting dalam keberhasilan sistem rotary dryer. Burner yang terlalu kecil akan menyebabkan kapasitas pengeringan tidak tercapai, sedangkan burner yang terlalu besar dapat menyebabkan konsumsi energi berlebihan, ketidakstabilan temperatur, dan meningkatnya risiko kerusakan produk.
Pada sistem rotary dryer pabrik tepung ini digunakan kombinasi gas burner CNG berkapasitas 300 kW dan 220 kW yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing drum. Konfigurasi tersebut dirancang untuk memberikan distribusi panas yang optimal pada seluruh tahapan proses pengeringan.
3.1 Kriteria Pemilihan Burner
Pemilihan burner harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan operasional agar sistem dapat bekerja secara efisien dalam jangka panjang.
- Kapasitas produksi material per jam.
- Kadar air awal dan kadar air target.
- Temperatur proses yang dibutuhkan.
- Jenis bahan bakar yang tersedia.
- Efisiensi sistem pengeringan.
- Fleksibilitas operasi saat beban berubah.
- Persyaratan keselamatan industri pangan.
Selain faktor di atas, burner juga harus mampu beroperasi secara modulating sehingga daya panas dapat disesuaikan dengan kebutuhan proses tanpa harus selalu bekerja pada kapasitas maksimum.
3.2 Kapasitas Burner per Drum
Distribusi kapasitas burner pada sistem tiga drum dirancang berdasarkan beban evaporasi yang terjadi pada masing-masing zona pengeringan.
Tahap awal pengeringan umumnya memerlukan energi paling besar karena kandungan air material masih tinggi.
| Drum | Jenis Proses | Kapasitas Burner | Fungsi Utama |
|---|---|---|---|
| Drum 1 | Pre-Drying | 300 kW | Pengeringan awal |
| Drum 2 | Main Drying | 300 kW | Pengeringan utama |
| Drum 3 | Final Conditioning | 220 kW | Penyempurnaan kadar air |
Total kapasitas terpasang mencapai 820 kW. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan panas aktual sekitar 514 kW, kapasitas ini masih memiliki cadangan yang cukup untuk mengakomodasi fluktuasi kadar air material, perubahan kapasitas produksi, maupun kondisi operasi yang tidak ideal.
3.3 Alasan Penggunaan Gas Burner CNG
Compressed Natural Gas (CNG) dipilih sebagai bahan bakar utama karena memiliki karakteristik yang sangat sesuai untuk aplikasi pengeringan produk pangan.Dibandingkan bahan bakar cair seperti solar atau heavy fuel oil, CNG menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dengan kandungan partikulat yang sangat rendah. Hal ini penting untuk menjaga kualitas produk tepung dan meminimalkan risiko kontaminasi.
Selain itu, burner CNG memungkinkan pengaturan rasio udara dan bahan bakar yang lebih presisi sehingga temperatur proses dapat dijaga lebih stabil.
- Emisi lebih rendah.
- Pembakaran lebih bersih.
- Kontrol temperatur lebih akurat.
- Perawatan lebih sederhana.
- Efisiensi pembakaran lebih tinggi.
- Cocok untuk industri pangan.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan burner untuk beroperasi secara modulasi otomatis sehingga konsumsi gas dapat disesuaikan dengan beban proses aktual.
3.4 Analisis Kebutuhan Energi
Berdasarkan data desain, kapasitas produksi material basah mencapai 2.000 kg/jam dengan kadar air awal sebesar 30% dan target kadar air akhir sebesar 12%.
Dari kondisi tersebut diperoleh kebutuhan evaporasi air sekitar 409 kg/jam. Dengan menggunakan panas laten penguapan air sebesar 2.260 kJ/kg, kebutuhan energi teoritis untuk proses evaporasi mencapai:
Untuk memperhitungkan energi pemanasan material serta berbagai losses selama proses, ditambahkan faktor koreksi sebesar 30%.
Dengan asumsi efisiensi termal sistem sebesar 65%, maka kebutuhan panas aktual yang harus disediakan burner menjadi:
Jika dikonversikan ke satuan daya:
Hasil ini menunjukkan bahwa kebutuhan daya aktual sekitar 514 kW masih berada jauh di bawah total kapasitas burner terpasang sebesar 820 kW. Artinya sistem memiliki margin operasi yang aman dan memungkinkan burner bekerja pada zona efisiensi yang lebih baik.
3.5 Distribusi Beban Pemanasan
Untuk mencapai distribusi pengeringan yang optimal, kebutuhan panas
dibagi ke masing-masing drum berdasarkan fungsi prosesnya.
| Drum | Persentase Beban | Beban Aktual |
|---|---|---|
| Drum 1 | 40% | 206 kW |
| Drum 2 | 40% | 206 kW |
| Drum 3 | 20% | 102 kW |
Distribusi ini memastikan setiap burner bekerja jauh di bawah kapasitas maksimumnya sehingga umur peralatan lebih panjang, stabilitas temperatur lebih baik, dan konsumsi energi dapat dikendalikan secara optimal.
3.7 Spesifikasi Burner yang Digunakan
Sistem rotary dryer menggunakan seri Bejo yang telah banyak digunakan pada aplikasi pengeringan industri, khususnya untuk proses yang membutuhkan kontrol temperatur stabil dan operasi kontinu.
| Model Burner | Kapasitas Panas | Aplikasi | Tipe Operasi |
|---|---|---|---|
| Bejo FS20 | ± 220 kW | Drum 3 (Final Conditioning) | Modulating |
| Bejo BTN300G | ± 300 kW | Drum 1 (Pre-Drying) | Modulating |
| Bejo RS34 | ± 300 kW | Drum 2 (Main Drying) | Modulating |
Pemilihan model burner disesuaikan dengan distribusi beban panas pada masing-masing drum. Drum pertama dan kedua menerima beban penguapan terbesar sehingga menggunakan burner 300 kW, sedangkan drum ketiga menggunakan burner 220 kW untuk tahap finishing dan stabilisasi kadar air.
3.8 Komponen Utama Burner
Setiap burner terdiri dari beberapa komponen utama yang berfungsi
mengatur proses pembakaran secara aman dan stabil.
- Burner head.
- Blower motor pembakaran.
- Air damper actuator.
- Ignition transformer.
- Ignition electrode.
- Flame detector / flame sensor.
- Gas solenoid valve.
- Gas pressure regulator.
- Gas pressure switch.
- Burner control box.
- Modulating controller.
- Safety interlock system.
9. Spare Part Kritis dan Manajemen Stok Gudang
Untuk menjaga kontinuitas produksi, beberapa komponen burner dan sistem dryer harus selalu tersedia di gudang sebagai spare part kritis. Kerusakan pada komponen berikut berpotensi menyebabkan downtime total pada sistem pengeringan.
9.1 Spare Part Kritis Burner
| Spare Part | Fungsi | Minimum Stock |
|---|---|---|
| Ignition Electrode | Pemantik awal burner | 6 pcs |
| Flame Sensor UV/Ionization | Deteksi nyala api | 3 pcs |
| Ignition Transformer | Pembangkit tegangan ignition | 2 pcs |
| Gas Solenoid Valve | Katup pengaman gas | 2 set |
| Pressure Switch Low Gas | Proteksi tekanan rendah | 2 pcs |
| Pressure Switch High Gas | Proteksi tekanan tinggi | 2 pcs |
| Burner Controller | Kontrol urutan pembakaran | 1 pcs |
| Modulating Motor | Kontrol kapasitas burner | 1 pcs |
| Gas Regulator | Stabilisasi tekanan gas | 1 pcs |
| Burner Motor | Penghasil udara pembakaran | 1 pcs |
9.2 Spare Part Sistem Dryer
| Komponen | Minimum Stock |
|---|---|
| Thermocouple Type K | 6 pcs |
| Temperature Controller | 2 pcs |
| Bearing Drum | 2 set |
| Roller Support | 1 set |
| Gearbox Drum | 1 unit |
| V-Belt | 2 set |
| Flexible Gas Hose | 2 pcs |
| Gasket Gas Train | 1 set |
| Seal Refractory | 1 set |
9.3 Kategori Persediaan Gudang
Spare part diklasifikasikan menjadi tiga kategori:
- Fast Moving : electrode, flame sensor, gasket, thermocouple.
- Medium Moving : solenoid valve, pressure switch, ignition transformer.
- Critical Spare : burner controller, motor burner, gearbox, regulator utama.
Komponen kategori critical wajib tersedia minimal satu unit untuk
menghindari downtime produksi yang berkepanjangan.
10. Studi Kasus Operasional yang Wajib Dianalisis
10.1 Burner FS20 Tidak Mau Ignition
Gejala:
- Burner masuk mode start tetapi tidak muncul api.
- Alarm ignition failure.
- Burner lockout.
Penyebab Umum:
- Ignition electrode aus.
- Ignition transformer rusak.
- Tekanan gas terlalu rendah.
- Solenoid valve tidak membuka.
Tindakan:
- Periksa percikan ignition.
- Periksa tekanan gas inlet.
- Periksa coil solenoid.
- Reset burner setelah inspeksi.
10.2 Burner BTN300G Sering Trip Saat Produksi
Gejala:
- Burner mati sendiri saat beban tinggi.
- Produksi terganggu.
Penyebab:
- Pressure drop pada jalur CNG.
- Filter gas kotor.
- Pressure switch tidak stabil.
Solusi:
- Bersihkan filter gas.
- Kalibrasi pressure switch.
- Periksa kapasitas regulator.
- Evaluasi diameter pipa gas.
10.3 Burner RS34 Konsumsi Gas Boros
Gejala:
- Konsumsi CNG meningkat.
- Temperatur sulit stabil.
Penyebab:
- Air-fuel ratio tidak tepat.
- Damper macet.
- Sensor temperatur tidak akurat.
Solusi:
- Tuning burner menggunakan combustion analyzer.
- Periksa aktuator damper.
- Kalibrasi sensor temperatur.
10.4 Moisture Produk Tidak Stabil
Gejala:
- Kadar air produk berubah-ubah.
- Mutu produk tidak konsisten.
Penyebab:
- Feed rate berubah.
- Burner tidak modulasi dengan baik.
- Thermocouple drift.
Solusi:
- Stabilkan feeding material.
- Periksa PID controller.
- Ganti thermocouple yang sudah tidak akurat.
10.5 Flame Sensor Kotor
Kasus ini merupakan salah satu penyebab downtime paling sering terjadi pada burner CNG. Sensor yang tertutup debu atau residu pembakaran akan kehilangan kemampuan mendeteksi nyala api sehingga burner masuk mode trip walaupun api sebenarnya masih menyala.
Pemeriksaan dan pembersihan flame sensor harus dimasukkan ke dalam jadwal preventive maintenance mingguan.
3.6 Kesimpulan Pemilihan Burner
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan energi dan distribusi beban proses, penggunaan dua unit burner 300 kW dan satu unit burner 220 kW merupakan konfigurasi yang tepat untuk rotary dryer tiga drum pada
pabrik tepung.
Kapasitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan panas proses dengan cadangan kapasitas yang memadai, mendukung operasi kontinu, serta memberikan fleksibilitas tinggi terhadap perubahan kondisi produksi.
Dengan dukungan sistem kontrol yang tepat, konfigurasi ini dapat menghasilkan pengeringan yang efisien, aman, dan konsisten dalam jangka panjang.
PT Indira Mitra Boiler
Industrial Heating System Specialist
Office:Emerald Residence Sepatan Ruko 8i, Kosambi Tangerang
Phone: (021) 352 95874
WhatsApp : +62 813-8866-6204 (Ratman Bejo)
Workshop : Tangerang – Indonesia
Website : www.indiramitraboiler.co.id
Website : www.burner.co.id
Email : info@indira.co.id | idmratman@gmail.com
YouTube : https://www.youtube.com/@Bejoburnerindonesia

