Reaktor Refinery Oli Bekas 56 Ton- Cara Kerja, Perhitungan Burner Waste Oil, dan Sistem Distilasi

Pengertian Reaktor Refinery Oli Bekas

Baca Juga data Hitungan Nya Perhitungan Kapasitas Burner Waste Oil untuk Reaktor Refinery 56 Ton. proses 72 jam atau 3 hari.

Fuel_ Heavy Oil_Burner

Reaktor refinery oli bekas adalah bejana proses yang digunakan untuk memanaskan dan memisahkan komponen dalam oli bekas berdasarkan perbedaan karakteristik penguapan atau rentang titik didihnya. Dalam sistem ini, oli bekas dipanaskan secara bertahap sehingga kandungan air dan fraksi hidrokarbon tertentu berubah menjadi uap.

Uap yang keluar dari reaktor kemudian dialirkan menuju kondensor. Di dalam kondensor, panas uap dipindahkan ke media pendingin sehingga uap berubah kembali menjadi cairan. Produk cair tersebut selanjutnya ditampung di dalam tangki produk, sedangkan fraksi berat, sludge, karbon, logam, dan kontaminan lain yang tidak menguap akan tertinggal sebagai residu.

Reaktor Refinery Oli Bekas 56 Ton dengan Burner Waste Oil dan Sistem Distilasi

Reaktor Refinery Oli Bekas 56 Ton Burner Waste Oil, dan Sistem Distilasi

Istilah “refinery” sering digunakan secara umum untuk menggambarkan proses pemurnian minyak. Namun, untuk pengolahan oli bekas menggunakan pemanasan dan kondensasi, istilah teknis yang lebih tepat dapat berupa:

  • Reaktor distilasi oli bekas
  • Waste oil distillation reactor
  • Waste oil refinery plant
  • Used oil recycling plant
  • Waste lubricant oil re-refining system
  • Pyrolysis reactor, apabila terjadi perengkahan termal tanpa oksigen
  • Vacuum distillation reactor, apabila proses dilakukan pada tekanan vakum

Pemilihan istilah harus disesuaikan dengan proses sebenarnya. Distilasi, cracking, pyrolysis, dan re-refining bukanlah proses yang sepenuhnya sama. Setiap proses mempunyai temperatur, tekanan, produk, peralatan, dan risiko operasi yang berbeda.

Untuk studi kasus ini, digunakan asumsi reaktor menampung sekitar 56.000 kg oli bekas dengan temperatur awal 30°C dan target temperatur proses 350°C. Bahan bakar burner menggunakan waste oil atau oli bekas yang telah dipersiapkan agar dapat diatomisasi dan dibakar dengan stabil.

Spesifikasi Burner Heavy Oil Seri B-WT

Berikut data kapasitas yang tercantum dalam dokumen teknis:

Model

Kapasitas panas

Konsumsi bahan bakar

Panjang flame maksimum

Tahap pembakaran

B-WT-20200 kW2–20 kg/jam1,0 meterSingle-stage
B-WT-30350 kW3–30 kg/jam1,5 meterDouble-stage
B-WT-40500 kW4–40 kg/jam1,8 meterDouble-stage
B-WT-60700 kW6–60 kg/jam2,0 meterDouble-stage
B-WT-1001.100 kW10–100 kg/jam2,2 meterDouble-stage
B-WT-1201.400 kW10–100 kg/jam2,5 meterDouble-stage
B-WT-1802.100 kW18–180 kg/jam3,0 meterDouble-stage
B-WT-2402.800 kW24–240 kg/jam3,8 meterThree-stage
B-WT-3003.500 kW30–300 kg/jam4,2 meterThree-stage
B-WT-3604.200 kW36–360 kg/jam5,0 meterThree-stage

 Burner Refinery Reaktor 56 Ton

Untuk studi kasus ini digunakan data:

ParameterNilai
Massa oli dalam reaktor56.000 kg
Temperatur awal30°C
Temperatur target350°C
Kalor jenis oli2,1 kJ/kg·°C
Efisiensi keseluruhan70%
Allowance body dan pipa15%
Margin desain20%
Waktu heat-up90 jam
Bahan bakarWaste oil

Fungsi Utama Mesin Refinery Oli Bekas

Mesin refinery oli bekas bukan hanya sebuah tangki yang dipanaskan. Sistem ini terdiri dari beberapa peralatan yang bekerja sebagai satu kesatuan. Setiap bagian mempunyai fungsi penting terhadap kualitas produk, keselamatan, stabilitas temperatur, dan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Fungsi utama sistem refinery oli bekas antara lain:

  • Menampung bahan baku oli bekas
  • Memisahkan kotoran kasar sebelum oli masuk reaktor
  • Mengurangi kandungan air dalam bahan baku
  • Memanaskan oli secara bertahap
  • Menguapkan fraksi yang dapat dipisahkan
  • Mengalirkan uap menuju sistem kondensasi
  • Mendinginkan dan mengembunkan uap minyak
  • Memisahkan air dari produk hidrokarbon
  • Menampung hasil distilasi
  • Mengeluarkan residu berat dari reaktor
  • Mengendalikan temperatur dan tekanan proses
  • Menangani gas yang tidak dapat terkondensasi
  • Menjaga pembakaran burner tetap aman dan stabil

Karena proses melibatkan temperatur tinggi serta uap hidrokarbon yang mudah terbakar, desain mesin tidak boleh hanya berfokus pada kapasitas produksi. Sistem keselamatan, kontrol tekanan, interlock, jalur pelepasan darurat, ventilasi, dan kontrol pembakaran harus direncanakan sejak awal.

Cara Kerja Reaktor Refinery Oli Bekas

Secara sederhana, proses pengolahan oli bekas berlangsung melalui beberapa tahapan. Bahan baku dimulai dari tangki penyimpanan, kemudian melewati proses penyaringan, pengisian reaktor, pemanasan, penguapan, kondensasi, pemisahan produk, dan pengeluaran residu.

Alur proses sederhananya adalah:

Tangki oli bekas → Filter → Feed pump → Reaktor → Kondensor → Separator → Tangki produk

Sementara itu, sistem pembakarannya mempunyai alur tersendiri:

Tangki bahan bakar → Strainer → Gear pump → Filter → Fuel heater → Burner → Furnace → Cerobong

Bahan baku oli bekas di dalam reaktor harus dibedakan dari waste oil yang digunakan sebagai bahan bakar burner. Walaupun keduanya dapat berasal dari oli bekas, fungsi dan jalur sistemnya berbeda.

Oli di dalam reaktor merupakan bahan yang akan diproses. Waste oil pada sistem burner merupakan sumber energi untuk menghasilkan panas. Waste oil untuk burner harus melalui persiapan khusus agar viskositas, kebersihan, dan kandungan airnya sesuai dengan kemampuan sistem atomisasi burner.

Tahap Penerimaan dan Penyimpanan Oli Bekas

Oli bekas yang diterima dari berbagai sumber biasanya mempunyai kualitas yang tidak seragam. Oli dapat mengandung air, lumpur, partikel logam, bahan kimia, coolant, solvent, bahan bakar, dan kontaminan lainnya.

Karena itu, oli bekas sebaiknya tidak langsung dimasukkan ke dalam reaktor. Bahan baku perlu ditempatkan terlebih dahulu di dalam tangki penerimaan atau settling tank.

Di dalam settling tank, sebagian air bebas dan kotoran berat dapat mengendap. Selanjutnya, oli dapat melewati strainer atau filter sebelum dipompa menuju tangki bahan baku utama maupun langsung ke reaktor.

Tahap persiapan yang baik dapat membantu:

  • Mengurangi risiko sumbatan pada pipa
  • Mengurangi jumlah air yang masuk reaktor
  • Mengurangi pembentukan busa
  • Menjaga proses pemanasan lebih stabil
  • Mengurangi beban kondensor
  • Mengurangi risiko tekanan meningkat secara mendadak
  • Meningkatkan konsistensi kualitas produk

Kandungan air merupakan salah satu parameter penting. Ketika oli yang mengandung air dipanaskan, air akan berubah menjadi uap dan volumenya meningkat secara signifikan. Jika penguapan berlangsung terlalu cepat, tekanan di dalam reaktor dapat meningkat dan mengganggu kestabilan proses.

Tahap Pengisian Reaktor

Oli dari tangki bahan baku dipindahkan ke reaktor menggunakan feed pump. Jenis pompa harus disesuaikan dengan viskositas, temperatur, kapasitas aliran, kandungan kotoran, dan tekanan sistem.

Beberapa sistem menggunakan gear pump karena mampu memindahkan cairan yang relatif kental. Namun, pemilihan pompa tetap harus mengacu pada data aktual bahan baku dan kondisi operasi.

Volume pengisian reaktor tidak boleh sama dengan volume geometris total bejana. Harus disediakan ruang uap atau vapor space di bagian atas reaktor.

Ruang tersebut diperlukan untuk:

  • Menampung ekspansi volume oli
  • Memberikan ruang pembentukan uap
  • Mengurangi risiko liquid carry-over
  • Menjaga pemisahan cairan dan uap
  • Mengurangi risiko produk cair ikut masuk kondensor
  • Mendukung kestabilan tekanan proses

Untuk menentukan volume reaktor 56 ton, diperlukan data densitas oli pada temperatur pengisian. Jika densitas awal diasumsikan sekitar 850–900 kg/m³, volume cairan 56.000 kg berada pada kisaran kurang lebih 62–66 m³.

Akan tetapi, angka tersebut belum menjadi kapasitas geometris reaktor. Volume vessel harus ditambah dengan ruang ekspansi, vapor space, toleransi operasi, nozzle, internals, dan pertimbangan desain lainnya.

Tahap Pemanasan Awal

Setelah reaktor terisi sesuai level operasi, burner mulai bekerja untuk memanaskan furnace. Panas dari pembakaran waste oil dipindahkan ke body reaktor atau permukaan pemanas yang dirancang khusus.

Temperatur tidak sebaiknya dinaikkan secara mendadak. Pemanasan dilakukan secara bertahap agar distribusi temperatur lebih merata dan thermal stress pada material dapat dikendalikan.

Pada tahap awal, panas digunakan untuk:

  • Memanaskan oli di dalam reaktor
  • Memanaskan body reaktor
  • Memanaskan pipa dan nozzle
  • Memanaskan struktur yang terkena panas
  • Memanaskan insulation lining dan furnace
  • Mengatasi kehilangan panas ke lingkungan
  • Menguapkan kandungan air

Kecepatan pemanasan perlu dikendalikan menggunakan temperature controller. Burner modulating lebih sesuai daripada burner satu tahap karena kapasitas api dapat disesuaikan dengan kebutuhan panas aktual.

Ketika temperatur masih rendah, burner dapat bekerja pada kapasitas lebih tinggi. Saat temperatur mendekati setpoint, output burner diturunkan untuk mengurangi overshoot dan menjaga temperatur proses tetap stabil.

Tahap Penguapan Air

Air merupakan komponen yang umumnya menguap lebih awal dibandingkan fraksi minyak berat. Pada tekanan atmosfer, penguapan air menjadi dominan ketika temperatur mendekati titik didihnya.

Akan tetapi, titik didih aktual dipengaruhi oleh tekanan sistem, komposisi campuran, dan kondisi operasi. Apabila proses menggunakan vakum, penguapan dapat berlangsung pada temperatur yang lebih rendah.

Uap air yang keluar dari reaktor dapat dialirkan menuju kondensor tahap pertama. Hasil kondensasi kemudian masuk ke separator agar air dan fraksi minyak ringan dapat dipisahkan.

Pada tahap ini operator perlu memantau:

  • Temperatur reaktor
  • Tekanan reaktor
  • Kecepatan kenaikan temperatur
  • Aliran kondensat
  • Kondisi kondensor
  • Temperatur cooling water masuk dan keluar
  • Level separator
  • Kondisi nyala burner
  • Draft furnace dan cerobong

Apabila kandungan air dalam bahan baku tinggi, kebutuhan energi proses juga meningkat. Hal ini terjadi karena air membutuhkan panas untuk dinaikkan temperaturnya dan membutuhkan panas laten untuk berubah dari cairan menjadi uap.

Tahap Distilasi Fraksi Minyak

Setelah kandungan air berkurang, temperatur dapat dinaikkan menuju rentang distilasi fraksi hidrokarbon. Komponen yang lebih mudah menguap akan keluar lebih dahulu, diikuti oleh fraksi yang membutuhkan temperatur lebih tinggi.

Oli bekas bukanlah zat tunggal dengan satu titik didih. Oli bekas merupakan campuran berbagai hidrokarbon, additive, produk oksidasi, kotoran, air, dan material lainnya.

Karena itu, pernyataan bahwa oli “mendidih pada 350°C” perlu dijelaskan dengan benar. Temperatur 350°C lebih tepat disebut sebagai salah satu temperatur operasi maksimum atau temperatur proses yang ditargetkan untuk menghasilkan pemisahan fraksi tertentu.

Komponen dalam oli akan menguap dalam rentang temperatur. Karakteristik distilasi bergantung pada:

  • Jenis oli bekas
  • Sumber dan riwayat penggunaan oli
  • Kandungan air
  • Kandungan bahan bakar
  • Kandungan solvent
  • Kandungan additive
  • Tingkat oksidasi
  • Tekanan proses
  • Waktu tinggal di reaktor
  • Kecepatan pemanasan
  • Penggunaan vakum
  • Penggunaan catalyst atau treatment tambahan

Data laboratorium dan kurva distilasi bahan baku sangat membantu dalam menentukan kondisi operasi yang tepat.

Tahap Kondensasi Uap Minyak

Uap dari reaktor harus didinginkan agar berubah kembali menjadi produk cair. Peralatan yang melakukan fungsi ini disebut kondensor.

Kondensor dapat menggunakan:

  • Cooling water
  • Cooling tower water
  • Chilled water
  • Air-cooled condenser
  • Kombinasi beberapa tahap pendinginan

Pada instalasi refinery, kondensor sering dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama dapat menangani uap air dan fraksi ringan, sedangkan kondensor utama digunakan untuk mengembunkan fraksi minyak.

Kapasitas kondensor tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan diameter pipa uap. Perhitungan harus mempertimbangkan:

  • Debit uap dalam kg/jam
  • Komposisi uap
  • Temperatur uap masuk
  • Temperatur kondensat keluar
  • Panas laten kondensasi
  • Cooling water inlet temperature
  • Cooling water outlet temperature
  • Koefisien perpindahan panas
  • Fouling factor
  • Pressure drop
  • Luas permukaan perpindahan panas
  • Material tube dan shell

Apabila kondensor terlalu kecil, sebagian uap tidak dapat terkondensasi. Tekanan reaktor dapat meningkat, kehilangan produk menjadi lebih besar, dan beban sistem gas meningkat.

Pemisahan Produk dan Air

Kondensat yang keluar dari kondensor dapat terdiri dari campuran air dan minyak. Karena densitas keduanya berbeda, pemisahan dapat dilakukan menggunakan separator atau decanter.

Produk minyak selanjutnya dialirkan ke tangki penampungan. Air hasil kondensasi harus diperlakukan sesuai karakteristik dan ketentuan pengelolaan limbah yang berlaku.

Tangki produk sebaiknya dilengkapi dengan:

  • Level indicator
  • High-level alarm
  • Low-level drain
  • Sampling point
  • Vent line
  • Overflow line yang aman
  • Grounding dan bonding
  • Temperature indicator bila diperlukan
  • Pompa transfer
  • Valve isolasi

Produk hasil distilasi belum tentu dapat langsung digunakan sebagai pelumas atau bahan bakar. Kualitasnya harus diperiksa melalui pengujian laboratorium, seperti densitas, viskositas, flash point, kadar air, sulfur, ash content, carbon residue, dan parameter lain sesuai tujuan penggunaan.

Penanganan Gas yang Tidak Terkondensasi

Tidak semua gas dari reaktor dapat berubah kembali menjadi cairan di dalam kondensor. Sebagian gas ringan dapat tetap berada dalam fase gas.

Gas yang tidak terkondensasi tidak boleh dilepaskan sembarangan. Gas tersebut dapat mengandung senyawa mudah terbakar, berbau, atau berbahaya.

Sistem dapat dilengkapi dengan:

  • Gas-liquid separator
  • Knock-out drum
  • Scrubber
  • Flame arrestor
  • Gas holder
  • Controlled flare
  • Sistem pemanfaatan kembali sebagai bahan bakar
  • Pressure control valve
  • Monitoring tekanan dan temperatur

Apabila gas digunakan kembali sebagai bahan bakar, diperlukan sistem pengondisian dan pengamanan yang sesuai. Komposisi, nilai kalor, tekanan, kestabilan aliran, serta potensi terbentuknya kondensat harus diperiksa.

Penggunaan gas proses sebagai bahan bakar tidak boleh dilakukan dengan menyambungkan pipa langsung ke burner tanpa sistem kontrol. Dibutuhkan gas train, isolation valve, pressure regulator, flame arrestor, interlock, dan perangkat keselamatan lainnya.

Pengeluaran Residu Reaktor

Fraksi yang tidak menguap akan tertinggal di bagian bawah reaktor sebagai residu. Residu dapat mengandung fraksi minyak berat, sludge, karbon, logam, additive yang terdegradasi, dan kotoran.

Residu harus dikeluarkan menggunakan sistem yang dirancang untuk temperatur dan viskositas tinggi. Pipa residu yang terlalu kecil dapat mudah tersumbat.

Sistem pengeluaran residu dapat dilengkapi dengan:

  • Bottom outlet
  • Valve temperatur tinggi
  • Heating jacket atau tracing
  • Residue pump
  • Strainer
  • Sampling connection
  • Tangki residu
  • Vent line
  • Level indicator

Proses pembuangan tidak boleh dilakukan saat kondisi tekanan dan temperatur belum aman. Prosedur operasi harus menentukan batas temperatur, tekanan, urutan valve, serta tindakan apabila residu tidak dapat mengalir.

Komponen Utama Mesin Refinery Oli Bekas

Satu unit mesin refinery oli bekas dapat terdiri dari beberapa komponen utama berikut.

1. Reaktor distilasi

 merupakan tempat berlangsungnya proses pemanasan, penguapan, dan pemisahan. Reaktor perlu dirancang berdasarkan:

  • Kapasitas batch
  • Volume cairan
  • Vapor space
  • Temperatur desain
  • Tekanan atau vakum desain
  • Corrosion allowance
  • Material konstruksi
  • Beban nozzle
  • Beban eksternal
  • Sistem support
  • Metode pemanasan
  • Insulation
  • Kebutuhan inspeksi

Material tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan temperatur. Komposisi fluida, korosivitas, kandungan sulfur, tekanan, siklus operasi, dan ketentuan desain juga harus diperhitungkan.

2. Furnace

 adalah ruang pembakaran tempat burner menghasilkan panas. Furnace harus mempunyai volume yang cukup agar nyala api berkembang dengan baik dan tidak langsung menghantam permukaan reaktor secara berlebihan.

Furnace umumnya dilengkapi dengan:

  • Refractory
  • Insulation
  • Burner mounting plate
  • Inspection door
  • Peep hole
  • Drain atau clean-out
  • Gas pass
  • Connection menuju chimney
  • Expansion joint
  • Temperature monitoring

Bentuk furnace dan jalur gas panas memengaruhi pemerataan temperatur serta efisiensi perpindahan panas.

3. Waste oil burner

burner mengubah oli bekas menjadi kabut atau atomisasi halus, mencampurnya dengan udara, kemudian membakarnya secara terkendali.

Burner untuk aplikasi ini sebaiknya mempunyai:

  • Kapasitas yang sesuai beban panas
  • Sistem modulating
  • Automatic ignition
  • Flame detector
  • Combustion air fan
  • Fuel pressure control
  • Air-fuel ratio control
  • Safety shut-off valve
  • Low- and high-temperature interlock
  • Low-fuel-pressure protection
  • Air pressure switch
  • Burner management sequence

Waste oil mempunyai karakteristik yang lebih sulit dibandingkan diesel. Kandungan air, sludge, dan perubahan viskositas dapat mengganggu atomisasi dan kestabilan nyala.

4. Skid bahan bakar

 bakar mempersiapkan waste oil sebelum masuk burner. Peralatan yang digunakan dapat meliputi:

  • Day tank
  • Strainer
  • Duplex filter
  • Gear pump
  • Fuel heater
  • Temperature controller
  • Pressure regulator
  • Pressure gauge
  • Thermometer
  • Return line
  • Drain line
  • Isolation valve
  • Safety relief valve

Pemanasan bahan bakar dilakukan untuk menurunkan viskositas agar waste oil lebih mudah dipompa dan diatomisasi.

5. Kondensor

menerima uap dari reaktor dan mengubahnya menjadi cairan. Kondensor dapat berupa shell-and-tube, coil condenser, air cooler, atau konfigurasi lain.

Pemilihan tipe kondensor bergantung pada:

  • Kapasitas uap
  • Temperatur
  • Tekanan
  • Kualitas cooling water
  • Fouling tendency
  • Ruang instalasi
  • Kemudahan pembersihan
  • Kebutuhan maintenance

6. Separator

Separator memisahkan air, minyak, dan gas. Peralatan ini perlu mempunyai waktu tinggal yang cukup agar pemisahan berlangsung efektif.

7. Tangki produk

Tangki produk menampung hasil distilasi sebelum dipindahkan ke proses treatment berikutnya atau penyimpanan.

8. Tangki residu

residu menampung material berat dari bagian bawah reaktor.dapat membutuhkan pemanas agar residu tetap dapat dipompa.

9. Scrubber

Scrubber digunakan untuk menangani gas yang tidak terkondensasi dan membantu menurunkan kandungan kontaminan tertentu sebelum gas diproses lebih lanjut.

10. Cerobong

Cerobong membuang gas hasil pembakaran furnace ke titik pelepasan yang direncanakan. Ukuran dan tinggi cerobong ditentukan berdasarkan debit gas, temperatur, draft, pressure drop, dan ketentuan lingkungan.

11. Panel kontrol

Panel kontrol berfungsi mengatur urutan operasi, burner, pompa, temperatur, tekanan, level, alarm, dan interlock keselamatan.

Data Dasar Perhitungan Reaktor 56 Ton

Studi kasus berikut menggunakan data sementara:

ParameterNilai
Massa oli56.000 kg
Temperatur awal30°C
Temperatur target350°C
Kenaikan temperatur320°C
Kalor jenis oli2,1 kJ/kg·°C
Efisiensi perpindahan panas70%
Allowance body reaktor dan pipa15%
Margin desain burner20%
Waktu pemanasan8, 12, atau 14 jam
Bahan bakarWaste oil

Data tersebut baru cukup untuk menghitung perkiraan beban pemanasan sensibel. Kapasitas distilasi final belum dapat dihitung tanpa mengetahui debit produk yang diuapkan dan panas laten campuran.

Rumus Perhitungan Panas Sensibel

Energi untuk menaikkan temperatur oli dihitung menggunakan rumus:

Keterangan:

  • = energi panas, kJ
  • = massa oli, kg
  • = kalor jenis oli, kJ/kg·°C
  • = kenaikan temperatur, °C

Kenaikan temperatur:

Maka:

Konversi ke kWh:

Energi sekitar 10.453 kWh adalah panas teoritis yang harus diterima oleh oli untuk naik dari 30°C menjadi 350°C. Nilai ini belum memasukkan body reaktor, kerugian panas, penguapan air, dan distilasi.

Allowance Body Reaktor dan Pipa

Untuk pendekatan awal digunakan allowance 15%:

Allowance ini merupakan pendekatan sederhana untuk memasukkan sebagian beban pemanasan body reaktor, pipa, dan komponen lain.

Untuk perhitungan engineering yang lebih akurat, panas body sebaiknya dihitung tersendiri:

Artinya, diperlukan berat aktual body, jenis material, dan temperatur rata-ratanya.

Koreksi Efisiensi Perpindahan Panas

Dengan efisiensi keseluruhan 70%, energi bahan bakar yang diperlukan adalah:

Nilai efisiensi 70% dianggap telah mewakili kehilangan panas dari pembakaran hingga panas diterima oleh produk. Apabila efisiensi burner dan efisiensi furnace dihitung terpisah, jangan mengurangi efisiensi dua kali tanpa dasar yang jelas.

Kapasitas Burner untuk Pemanasan 8 Jam

Kapasitas minimum sebelum margin desain:

Setelah margin desain 20%:

Dengan demikian, kebutuhan burner untuk pemanasan selama 8 jam adalah sekitar:

Rekomendasi kelas burner:

Pemilihan burner 3.000 kW memberikan ruang terhadap variasi kualitas waste oil, perubahan kondisi lingkungan, dan ketidakpastian data awal. Namun, burner yang dipilih harus mempunyai turndown ratio memadai agar tetap dapat bekerja stabil saat beban panas menurun.

Kapasitas Burner untuk Pemanasan 12 Jam

Kapasitas minimum:

Setelah margin desain 20%:

Rekomendasi kapasitas burner untuk waktu pemanasan 12 jam:

Kapasitas Burner untuk Pemanasan 14 Jam

Kapasitas minimum:

Setelah margin desain 20%:

Rekomendasi kapasitas burner untuk waktu pemanasan 14 jam:

Perbandingan Kapasitas Burner

Waktu pemanasanSebelum marginSetelah margin 20%Rekomendasi burner
8 jam2.147 kW2.576 kW2.600–3.000 kW
12 jam1.431 kW1.717 kW1.800–2.000 kW
14 jam1.227 kW1.472 kW1.500–1.700 kW

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa semakin singkat target pemanasan, semakin besar kapasitas burner yang dibutuhkan.

Pemilihan waktu operasi bukan hanya persoalan kapasitas burner. Waktu yang terlalu cepat dapat menyebabkan:

  • Temperatur permukaan reaktor terlalu tinggi
  • Pemanasan produk tidak merata
  • Thermal stress meningkat
  • Local overheating
  • Pembentukan coke
  • Penguapan berlangsung terlalu cepat
  • Beban kondensor meningkat
  • Tekanan reaktor sulit dikendalikan
  • Kualitas produk tidak konsisten

Karena itu, burner besar tidak selalu boleh dioperasikan pada kapasitas maksimum sepanjang proses.

Mengapa Hasil 2,58 MW Belum Menjadi Kapasitas Final?

Nilai 2,58 MW untuk delapan jam adalah perkiraan kebutuhan pemanasan awal berdasarkan panas sensibel, allowance, efisiensi, dan margin desain.

Dalam proses refinery, energi tidak hanya digunakan untuk menaikkan temperatur. Sebagian produk juga harus berubah menjadi uap.

Persamaan beban panas refinery yang lebih lengkap adalah:

Panas penguapan air:

Panas distilasi produk:

Tanpa data jumlah air dan debit distilat, kedua beban tersebut belum dapat dihitung secara pasti.

Data tambahan yang diperlukan meliputi:

  • Persentase kandungan air
  • Jumlah distilat yang dihasilkan
  • Debit distilat per jam
  • Komposisi fraksi
  • Kurva distilasi
  • Temperatur masing-masing fraksi
  • Tekanan atau tingkat vakum
  • Panas laten campuran
  • Waktu produksi efektif
  • Jumlah residu

Oleh sebab itu, kapasitas burner 2,58 MW hanya boleh dinyatakan sebagai estimasi minimum heat-up selama delapan jam, bukan kapasitas final keseluruhan proses distilasi.

Estimasi Konsumsi Waste Oil Burner

Konsumsi bahan bakar ditentukan oleh kapasitas burner dan nilai kalor waste oil.

Untuk perkiraan awal, nilai kalor bawah waste oil dapat diasumsikan:

Konversi ke kWh/kg:

Konsumsi waste oil:

Untuk kapasitas 2.576 kW:

Apabila densitas waste oil diasumsikan 0,90 kg/liter:

Perkiraan konsumsi berdasarkan waktu pemanasan:

WaktuKapasitas desainWaste oilVolume perkiraan
8 jam2.576 kW±232 kg/jam±258 liter/jam
12 jam1.717 kW±155 kg/jam±172 liter/jam
14 jam1.472 kW±133 kg/jam±147 liter/jam

Total bahan bakar desain berada di sekitar 1.855 kg atau kurang lebih 2.061 liter per batch. Nilai total hampir sama karena kebutuhan energi batch sama, sedangkan perbedaannya terletak pada laju konsumsi per jam.

Namun, konsumsi aktual dapat berubah akibat:

  • Nilai kalor waste oil
  • Kandungan air
  • Kandungan sludge
  • Viskositas
  • Efisiensi atomisasi
  • Excess air
  • Temperatur gas buang
  • Kondisi refractory
  • Kebocoran udara furnace
  • Kualitas insulation
  • Pola modulasi burner
  • Beban distilasi aktual

Waste oil sebaiknya diuji untuk mengetahui nilai kalor, densitas, viskositas, kadar air, flash point, ash, sulfur, dan kandungan padatan.

Sistem Burner Waste Oil yang Dibutuhkan

Burner waste oil berbeda dengan light oil burner untuk solar. Waste oil cenderung mempunyai viskositas lebih tinggi dan kualitas yang berubah-ubah.

Agar pembakaran stabil, sistem bahan bakar perlu dirancang sebagai satu rangkaian:

Day tank → Strainer → Gear pump → Duplex filter → Fuel heater → Pressure control → Burner → Return line

Days tank

 menyediakan bahan bakar untuk burner dalam jumlah terkendali. Tangki dapat dilengkapi dengan level switch, thermometer, heater, drain, vent, overflow, dan return connection.

Strainer dan filter

Strainer menahan partikel kasar, sedangkan filter yang lebih halus membantu melindungi pompa, valve, dan nozzle.

Duplex filter dapat dipertimbangkan agar salah satu filter dapat dibersihkan sementara jalur lainnya tetap beroperasi.

Gear pump

Gear pump digunakan untuk menghasilkan aliran dan tekanan bahan bakar yang diperlukan oleh burner.

Pompa harus dipilih berdasarkan:

  • Kapasitas maksimum burner
  • Viskositas bahan bakar
  • Temperatur bahan bakar
  • Tekanan nozzle
  • Pressure drop filter
  • Sistem return
  • Kondisi suction

Fuel heater

Fuel heater menurunkan viskositas waste oil sebelum atomisasi. Temperatur target tidak boleh ditentukan sembarangan karena setiap waste oil mempunyai karakteristik berbeda.

Kontrol temperatur sebaiknya menggunakan sensor dan interlock. Burner tidak boleh diizinkan menyala apabila temperatur bahan bakar belum mencapai batas yang diperlukan.

Sistem atomisasi

Atomisasi dapat menggunakan:

  • Mechanical pressure atomization
  • Air atomization
  • Steam atomization

Pemilihannya bergantung pada kapasitas burner, kualitas waste oil, ketersediaan udara bertekanan atau steam, serta kebutuhan turndown.

Return line

Return line membantu menjaga sirkulasi dan tekanan bahan bakar. Jalur return juga membantu mempertahankan temperatur waste oil agar tidak cepat turun.

Pentingnya Burner Modulating

Burner modulating memungkinkan kapasitas pembakaran berubah sesuai sinyal dari temperature controller atau pressure controller.

Untuk reaktor refinery, kebutuhan panas akan berubah sepanjang proses. Pada awal heat-up, beban tinggi diperlukan untuk menaikkan temperatur. Ketika air mulai menguap, laju pemanasan perlu dikontrol. Saat distilasi berlangsung, burner harus menyesuaikan panas dengan laju uap dan kemampuan kondensor.

Burner modulating memberikan beberapa keuntungan:

  • Temperatur lebih stabil
  • Overshoot lebih kecil
  • Konsumsi bahan bakar lebih terkontrol
  • Thermal stress dapat dikurangi
  • Laju penguapan lebih mudah diatur
  • Tekanan reaktor lebih stabil
  • Operasi lebih fleksibel
  • Frekuensi start-stop berkurang

Untuk kapasitas 3.000 kW, burner idealnya mempunyai rentang modulasi yang cukup lebar. Apabila minimum firing rate terlalu tinggi, burner dapat sering hidup-mati saat beban menurun.

Sistem Kontrol Reaktor Refinery

Sistem kontrol harus mengatur peralatan proses dan keselamatan secara terintegrasi. Panel tidak hanya menyalakan burner dan pompa.

Parameter yang perlu dipantau dapat meliputi:

  • Temperatur oli di beberapa titik
  • Temperatur vapor outlet
  • Temperatur furnace
  • Temperatur gas buang
  • Tekanan reaktor
  • Tingkat vakum
  • Tekanan bahan bakar
  • Temperatur bahan bakar
  • Tekanan udara atomisasi
  • Cooling water flow
  • Temperatur cooling water
  • Level reaktor
  • Level separator
  • Level tangki produk
  • Flame signal
  • Draft furnace

Interlock burner dapat mencakup:

  • High-high temperature
  • High-high pressure
  • Low cooling-water flow
  • ID fan failure
  • Combustion air fan failure
  • Low fuel pressure
  • High fuel pressure
  • Low atomizing-air pressure
  • Flame failure
  • Emergency stop
  • Valve-position failure
  • High furnace pressure
  • Reaktor tidak siap beroperasi

Apabila salah satu kondisi kritis terjadi, sistem harus menghentikan suplai bahan bakar melalui safety shut-off valve dan menjalankan urutan shutdown yang telah direncanakan.

Sistem Keselamatan yang Perlu Diperhatikan

Proses refinery oli bekas mempunyai risiko kebakaran, ledakan, tekanan berlebih, temperatur tinggi, gas berbahaya, dan tumpahan minyak.

Beberapa perlindungan yang perlu dipertimbangkan adalah:

  • Pressure safety valve
  • Rupture disc bila diperlukan
  • Vacuum protection
  • High-pressure alarm
  • High-temperature trip
  • Flame safeguard
  • Double safety shut-off valve
  • Emergency shutdown
  • Nitrogen purging
  • Flame arrestor
  • Gas detector
  • Fire detector
  • Grounding dan bonding
  • Closed drain system
  • Bund wall
  • Fire extinguishing system
  • Ventilasi area
  • Area classification
  • Jalur evakuasi
  • Prosedur lockout-tagout

Kapasitas dan set pressure perangkat pelepas tekanan harus dihitung berdasarkan skenario relief yang relevan. Penentuan ukuran safety valve tidak boleh hanya mengikuti diameter nozzle yang tersedia.

Skenario yang perlu dievaluasi dapat mencakup:

  • Blocked outlet
  • Kegagalan cooling water
  • Fire exposure
  • Burner gagal berhenti
  • Penguapan air secara mendadak
  • Reaksi atau cracking tidak terkendali
  • Valve salah posisi
  • Vacuum collapse
  • Gas blow-by

Pemanasan Langsung dan Tidak Langsung

Pada gambar konsep, burner memanaskan furnace dan panas dipindahkan ke reaktor tanpa api bersentuhan langsung dengan oli.

Sistem pemanasan langsung ke body reaktor mempunyai konstruksi yang relatif sederhana, tetapi membutuhkan perhatian tinggi terhadap distribusi heat flux. Pemanasan yang tidak merata dapat menyebabkan hot spot dan pembentukan coke.

Alternatif lainnya adalah menggunakan thermal oil heater. Burner memanaskan thermal oil, kemudian thermal oil bersirkulasi melalui jacket atau coil reaktor.

Keuntungan pemanasan thermal oil antara lain:

  • Temperatur lebih mudah dikendalikan
  • Distribusi panas lebih merata
  • Risiko hot spot dapat dikurangi
  • Burner dapat ditempatkan terpisah
  • Beberapa peralatan dapat dilayani satu heater

Namun, sistem thermal oil juga membutuhkan:

  • Circulation pump
  • Expansion tank
  • Sump tank
  • Thermal oil piping
  • Strainer
  • Control valve
  • Instrumentasi
  • Pemilihan thermal oil yang sesuai
  • Pencegahan degradasi fluida
  • Sistem fire safety

Untuk temperatur proses 350°C, pemilihan media thermal oil dan desain sistem harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Tidak semua thermal oil dapat dioperasikan pada temperatur tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi

Efisiensi sistem tidak hanya ditentukan oleh burner. Beberapa faktor yang memengaruhi efisiensi keseluruhan adalah:

  • Kualitas pembakaran
  • Excess air
  • Temperatur gas buang
  • Fouling pada permukaan pemanas
  • Ketebalan coke
  • Kondisi refractory
  • Ketebalan insulation
  • Kebocoran udara
  • Bentuk jalur gas panas
  • Distribusi api
  • Kondisi kondensor
  • Lama proses
  • Frekuensi start-stop
  • Kualitas waste oil
  • Sistem heat recovery

Temperatur gas buang yang terlalu tinggi dapat menunjukkan bahwa sebagian energi keluar melalui cerobong. Namun, temperatur gas buang juga tidak boleh diturunkan tanpa memperhitungkan risiko kondensasi dan korosi.

Perawatan rutin sangat penting untuk menjaga performa sistem. Lapisan coke pada permukaan reaktor dapat bertindak sebagai isolator dan menurunkan perpindahan panas. Akibatnya, konsumsi bahan bakar meningkat dan temperatur logam dapat menjadi terlalu tinggi.

Perawatan Mesin Refinery Oli Bekas

Program maintenance dapat dibagi menjadi pemeriksaan harian, mingguan, bulanan, dan periodik.

Pemeriksaan harian meliputi:

  • Kondisi flame
  • Tekanan bahan bakar
  • Temperatur fuel heater
  • Kebocoran pipa
  • Kondisi pompa
  • Temperatur bearing
  • Level tangki
  • Temperatur reaktor
  • Tekanan reaktor
  • Cooling water
  • Kondensat dan produk
  • Kondisi cerobong

Pemeriksaan berkala meliputi:

  • Pembersihan filter
  • Pemeriksaan nozzle
  • Kalibrasi flame detector
  • Pemeriksaan ignition electrode
  • Pemeriksaan safety shut-off valve
  • Kalibrasi temperature transmitter
  • Kalibrasi pressure transmitter
  • Pemeriksaan refractory
  • Pembersihan permukaan pemanas
  • Pembersihan kondensor
  • Pemeriksaan safety valve
  • Thickness measurement
  • Pemeriksaan sambungan las
  • Pemeriksaan insulation
  • Pengujian sistem interlock

Riwayat maintenance perlu dicatat agar perubahan performa dapat dianalisis.

Data yang Diperlukan Sebelum Menentukan Desain Final

Sebelum reaktor, burner, furnace, dan kondensor masuk tahap fabrikasi, diperlukan data teknis lebih lengkap.

Data bahan baku

  • Jenis oli bekas
  • Densitas
  • Viskositas
  • Kadar air
  • Kandungan sludge
  • Flash point
  • Kurva distilasi
  • Sulfur
  • Ash content
  • Kandungan logam
  • Hasil analisis laboratorium

 proses

  • Kapasitas batch
  • Jumlah batch per hari
  • Waktu heat-up
  • Waktu distilasi
  • Temperatur operasi
  • Tekanan operasi
  • Tingkat vakum
  • Target distilat
  • Debit distilat per jam
  • Persentase residu
  • Kualitas produk yang ditargetkan

 peralatan

  • Volume dan dimensi reaktor
  • Berat reaktor
  • Material
  • Corrosion allowance
  • Metode pemanasan
  • Luas permukaan pemanas
  • Furnace volume
  • Burner turndown
  • Kapasitas kondensor
  • Cooling-water temperature
  • Cooling-water availability
  • Spesifikasi pompa
  • Ukuran tangki produk

 lokasi

  • Layout area
  • Jarak aman
  • Kondisi lingkungan
  • Ketersediaan listrik
  • Ketersediaan air
  • Sistem pemadam
  • Akses maintenance
  • Jalur kendaraan
  • Area penyimpanan bahan bakar
  • Ketentuan perizinan dan lingkungan

Rekomendasi Awal untuk Reaktor 56 Ton

Berdasarkan data awal, beberapa rekomendasi sementara adalah:

  • Gunakan burner waste oil modulating.
  • Untuk target heat-up delapan jam, sediakan kelas burner sekitar 2.600–3.000 kW sebagai estimasi awal.
  • Jangan menetapkan kapasitas final sebelum debit distilat diketahui.
  • Gunakan fuel heater dan sistem filtrasi waste oil.
  • Sediakan vapor space yang memadai.
  • Gunakan kondensor bertahap apabila karakter produk memerlukannya.
  • Pasang separator air dan minyak.
  • Gunakan scrubber dan sistem penanganan non-condensable gas.
  • Lengkapi sistem dengan high-temperature dan high-pressure trip.
  • Evaluasi penggunaan vakum untuk mengurangi temperatur distilasi.
  • Hitung relief system berdasarkan skenario terburuk.
  • Lakukan pengujian laboratorium bahan baku.
  • Verifikasi desain oleh engineer proses, mekanikal, instrumentasi, dan keselamatan.

Kapasitas burner besar tidak boleh menjadi satu-satunya fokus. Kemampuan kondensor, ukuran pipa vapor, tekanan reaktor, dan pengendalian laju penguapan harus seimbang.

Studi Kasus Operasi 8 Jam, 12 Jam, dan 14 Jam

Pemilihan waktu pemanasan memengaruhi ukuran burner dan karakter operasi.

Operasi delapan jam

Target delapan jam membutuhkan burner sekitar 2,58 MW setelah margin desain. Pilihan ini memberikan proses heat-up lebih cepat, tetapi membutuhkan kontrol modulasi yang baik.

Risikonya adalah heat flux lebih tinggi dan laju penguapan dapat meningkat dengan cepat. Kondensor harus mampu menerima beban uap maksimum.

 12 jam

Target 12 jam membutuhkan burner sekitar 1,72 MW. Laju pemanasan lebih rendah sehingga temperatur lebih mudah dikendalikan.

Namun, waktu produksi menjadi lebih panjang dan kehilangan panas ke lingkungan berlangsung lebih lama.

 14 jam

Target 14 jam membutuhkan burner sekitar 1,47 MW. Beban panas per jam paling rendah, tetapi durasi proses menjadi semakin panjang.

Pemilihan waktu terbaik harus mempertimbangkan:

  • Target produksi harian
  • Ketersediaan shift operator
  • Kapasitas kondensor
  • Kualitas produk
  • Biaya bahan bakar
  • Waktu cooling dan unloading
  • Waktu cleaning
  • Jumlah batch per hari

Waktu heat-up tidak selalu sama dengan total waktu satu batch. Satu siklus produksi juga mencakup pengisian, dewatering, distilasi, holding, cooling, pengeluaran produk, pengeluaran residu, dan persiapan batch berikutnya.

Kesalahan Umum dalam Menentukan Kapasitas Burner

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:

Hanya menghitung volume reaktor

Volume reaktor tidak secara langsung menunjukkan kapasitas burner. Massa produk, kalor jenis, kenaikan temperatur, waktu, efisiensi, dan beban penguapan harus diketahui.

Menganggap 350°C sebagai satu titik didih

Oli bekas adalah campuran. Komponennya menguap dalam rentang temperatur, bukan pada satu titik didih tunggal.

Tidak menghitung panas laten

Panas sensibel hanya menaikkan temperatur. Proses perubahan fase membutuhkan panas laten tambahan.

Tidak memperhitungkan kandungan air

Air dapat meningkatkan kebutuhan energi dan menciptakan risiko kenaikan tekanan.

Menggunakan burner ON-OFF berkapasitas besar

Burner besar tanpa modulasi dapat menyebabkan temperatur tidak stabil dan frekuensi start-stop tinggi.

Tidak memeriksa furnace volume

Burner harus sesuai dengan volume dan heat release furnace. Nyala api tidak boleh langsung menghantam permukaan secara berlebihan.

Mengabaikan turndown ratio

Burner harus dapat bekerja stabil pada beban rendah setelah temperatur operasi tercapai.

Mengabaikan kapasitas kondensor

Burner besar menghasilkan laju uap tinggi. Jika kondensor tidak mampu mengikuti, tekanan reaktor dapat meningkat.

Keunggulan Menggunakan Waste Oil sebagai Bahan Bakar

Penggunaan waste oil sebagai bahan bakar dapat memberikan beberapa manfaat apabila bahan tersedia dan sistem pembakarannya dirancang dengan benar.

Keuntungannya antara lain:

  • Memanfaatkan sumber energi yang tersedia
  • Mengurangi ketergantungan pada diesel
  • Potensi biaya bahan bakar lebih rendah
  • Sesuai untuk proses temperatur tinggi
  • Dapat digunakan pada burner industrial khusus
  • Dapat mendukung pemanfaatan sebagian produk samping

Namun, waste oil bukan bahan bakar yang selalu seragam. Penggunaannya dapat menimbulkan tantangan berupa:

  • Nozzle cepat kotor
  • Filter sering tersumbat
  • Pembakaran tidak stabil
  • Emisi partikulat
  • Pembentukan deposit
  • Kandungan air
  • Kandungan logam
  • Nilai kalor berubah
  • Viskositas tinggi
  • Potensi korosi

Karena itu, penghematan biaya bahan bakar perlu dibandingkan dengan biaya fuel preparation, maintenance, cleaning, emission control, dan downtime.

FAQ Reaktor Refinery Oli Bekas

Apa yang dimaksud reaktor refinery oli bekas?

Reaktor refinery oli bekas adalah bejana proses yang digunakan untuk memanaskan oli bekas dan memisahkan komponennya melalui penguapan, distilasi, kondensasi, atau tahapan treatment lain.

Apakah seluruh oli mendidih pada suhu 350°C?

Tidak. Oli bekas merupakan campuran berbagai komponen. Masing-masing komponen mempunyai karakteristik penguapan berbeda. Temperatur 350°C merupakan temperatur proses, bukan satu titik didih untuk seluruh campuran.

Berapa kapasitas burner untuk memanaskan 56 ton oli?

Dengan asumsi temperatur awal 30°C, target 350°C, kalor jenis 2,1 kJ/kg·°C, efisiensi 70%, allowance 15%, dan margin 20%, kebutuhan heat-up delapan jam sekitar 2,58 MW.

Apakah burner 2,58 MW sudah pasti cukup?

Belum tentu. Angka tersebut terutama untuk pemanasan sensibel. Beban penguapan air dan distilasi produk belum dihitung secara final.

Berapa rekomendasi burner untuk target delapan jam?

Rekomendasi awal berada pada kelas 2.600–3.000 kW dengan sistem modulating. Pemilihan final harus dicocokkan dengan furnace, kondensor, tekanan, dan target distilat.

Berapa konsumsi waste oil per jam?

Dengan nilai kalor waste oil sekitar 40.000 kJ/kg, burner 2.576 kW membutuhkan sekitar 232 kg/jam atau kurang lebih 258 liter/jam pada densitas 0,90 kg/liter.

Mengapa waste oil perlu dipanaskan sebelum masuk burner?

Pemanasan membantu menurunkan viskositas sehingga waste oil lebih mudah dipompa dan diatomisasi menjadi kabut halus.

Apakah burner solar dapat langsung menggunakan waste oil?

Belum tentu. Burner solar belum tentu mempunyai pompa, nozzle, fuel heater, filter, dan sistem atomisasi yang sesuai untuk waste oil.

Mengapa kondensor sangat penting?

Kondensor mengubah uap minyak menjadi cairan. Apabila kapasitasnya kurang, produk tidak dapat terkondensasi secara optimal dan tekanan proses dapat meningkat.

Apa fungsi scrubber?

Scrubber membantu menangani gas yang tidak terkondensasi dan mengurangi kontaminan tertentu sebelum gas dibuang atau dimanfaatkan lebih lanjut.

Apakah reaktor sebaiknya menggunakan vakum?

Vakum dapat membantu menurunkan temperatur penguapan dan mengurangi degradasi termal. Namun, vessel, kondensor, pompa vakum, seal, dan sistem keselamatan harus dirancang untuk kondisi tersebut.

Apa fungsi ruang uap di dalam reaktor?

Ruang uap menampung ekspansi cairan dan pembentukan uap serta membantu mencegah cairan terbawa langsung menuju kondensor.

Mengapa burner harus modulating?

Kebutuhan panas berubah selama heat-up dan distilasi. Burner modulating dapat menyesuaikan output sehingga temperatur dan tekanan lebih stabil.

Apakah gambar konsep dapat langsung digunakan untuk fabrikasi?

Tidak. Gambar konsep hanya menunjukkan susunan peralatan. Fabrikasi memerlukan process flow diagram, P&ID, heat and mass balance, mechanical calculation, datasheet, layout, dan detail drawing.

Kesimpulan

Reaktor refinery oli bekas merupakan sistem pengolahan yang memanfaatkan pemanasan, penguapan, pemisahan, dan kondensasi untuk menghasilkan fraksi minyak dari bahan baku oli bekas. Sistem ini terdiri dari reaktor, furnace, burner waste oil, fuel preparation skid, kondensor, separator, tangki produk, tangki residu, scrubber, cerobong, dan panel kontrol.

Untuk kapasitas bahan baku 56.000 kg, temperatur awal 30°C, dan target 350°C, energi panas teoritis produk adalah sekitar 37.632.000 kJ atau 10.453 kWh. Setelah allowance body dan pipa 15%, efisiensi 70%, serta margin desain 20%, kebutuhan burner untuk heat-up delapan jam diperkirakan sekitar 2.576 kW.

Rekomendasi sementara berada pada kelas burner waste oil modulating 2.600–3.000 kW untuk target delapan jam. Untuk waktu 12 jam diperlukan sekitar 1.717 kW, sedangkan waktu 14 jam membutuhkan sekitar 1.472 kW.

Hasil tersebut belum memasukkan panas laten penguapan air dan distilasi produk secara pasti. Karena itu, kapasitas final baru dapat ditentukan setelah diketahui kandungan air, debit distilat per jam, komposisi produk, tekanan proses, kapasitas kondensor, dimensi reaktor, dan metode pemanasan.

Pemilihan burner tidak boleh dipisahkan dari kemampuan furnace, kondensor, sistem kontrol, dan perangkat keselamatan. Seluruh sistem harus dirancang sebagai satu kesatuan agar proses refinery oli bekas dapat bekerja dengan stabil, efisien, dan aman.

PT Indira Mitra Boiler menyediakan layanan konsultasi, perhitungan kebutuhan panas, pemilihan burner waste oil, desain furnace, sistem thermal oil, panel kontrol, instalasi, dan commissioning untuk kebutuhan proses industri. Kapasitas dan konfigurasi peralatan dapat disesuaikan dengan data bahan baku serta target produksi pelanggan.

Studi Kasus Proses 90 Jam

Perlu diluruskan: 3 hari penuh = 72 jam, bukan 90 jam. Jika waktu proses yang dimaksud benar-benar 90 jam, durasinya sama dengan 3 hari 18 jam.

Saya hitungkan kedua skenario agar dapat dibandingkan.

Data perhitungan

ParameterNilai
Massa oli bekas56.000 kg
Suhu awal30°C
Suhu target350°C
Kenaikan suhu320°C
Kalor jenis oli2,1 kJ/kg·°C
Allowance reaktor dan pipa15%
Efisiensi keseluruhan70%
Margin desain20%
Nilai kalor waste oil40.000 kJ/kg
Densitas waste oil0,90 kg/liter

1. Energi pemanasan oli

Rumus panas sensibel:

Konversi ke kWh:

2. Penambahan allowance 15%

3. Koreksi efisiensi 70%

4. Penambahan margin desain 20%

Jadi, energi input berdasarkan kapasitas desain adalah sekitar 20.608 kWh untuk satu batch.

Skenario A: Proses 90 Jam

Kapasitas burner dihitung dengan:

Secara matematis, kebutuhan rata-rata burner adalah sekitar:

Untuk pemilihan unit di lapangan, dapat dipertimbangkan burner modulating sekitar:

Burner 300 kW memberikan cadangan kapasitas dan masih dapat diturunkan ketika temperatur mendekati setpoint.

Konsumsi waste oil per jam

Asumsi nilai kalor bawah waste oil:

Rumus konsumsi bahan bakar:

Dengan densitas 0,90 kg/liter:

Total konsumsi selama 90 jam

Konversi ke liter:

Ringkasan proses 90 jam

ParameterHasil
Durasi proses90 jam
Kapasitas burner hasil hitungan229 kW
Rekomendasi burner250–300 kW modulating
Konsumsi waste oil±20,6 kg/jam
Konsumsi volume±22,9 liter/jam
Total bahan bakar 90 jam±1.855 kg
Total volume 90 jam±2.061 liter

Skenario B: Proses 3 Hari atau 72 Jam

Apabila yang dimaksud adalah tepat tiga hari:

Kapasitas burner:

Rekomendasi pemilihan burner:

Konsumsi waste oil per jam

Konversi ke liter:

Total teoritis selama 72 jam tetap sekitar:

atau:

Perbandingan hasil

Durasi heat-upKapasitas hasil hitunganRekomendasi burnerWaste oil per jam
72 jam286 kW300–350 kW±28,6 liter/jam
90 jam229 kW250–300 kW±22,9 liter/jam

Catatan teknis penting

Hasil di atas berlaku jika 72 atau 90 jam merupakan waktu untuk menaikkan seluruh 56 ton oli dari 30°C hingga 350°C secara perlahan.

Angka tersebut belum menghitung secara terpisah:

  • Panas laten penguapan air
  • Panas laten distilasi minyak
  • Debit distilat per jam
  • Holding pada temperatur 350°C
  • Kehilangan panas selama 72–90 jam
  • Pembentukan coke
  • Pengaruh vakum
  • Variasi nilai kalor waste oil

Dalam kenyataan, proses yang sangat lama mengalami kehilangan panas secara terus-menerus. Oleh karena itu, membagi energi batch langsung dengan 90 jam dapat menghasilkan kapasitas burner yang terlalu rendah apabila insulation reaktor kurang baik.

Selain itu, jika selama 90 jam terjadi distilasi kontinu, rumus yang benar adalah:

Jadi, burner 250–300 kW hanya merupakan estimasi heat-up rata-rata. Kapasitas burner final belum boleh ditetapkan sebelum diketahui jumlah air dan target distilat dalam kg/jam. Untuk proses aktual, burner 300–500 kW modulating dapat menjadi rentang kajian awal, tetapi harus dikonfirmasi melalui neraca massa dan panas.

PT Indira Mitra Boiler
Office: (021) 352 95874
WhatsApp: +62 813-8866-6204 (Ratman Bejo)
www.indiramitraboiler.co.id
www.burner.co.id
info@indira.co.id
idmratman@gmail.com
Workshop: Tangerang – Indonesia
https://www.youtube.com/@Bejoburnerindonesia
Scroll to Top